
OKI — Hujan yang mengguyur Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, selama tiga hari berturut-turut membawa dampak positif terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah titik panas (hotspot) turun drastis, dari sebelumnya 751 titik menjadi hanya 21 titik.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten OKI belum mengendurkan kewaspadaan. Satuan tugas (Satgas) Karhutla masih melakukan pendinginan di sejumlah lokasi bekas kebakaran yang masih mengeluarkan asap untuk memastikan bara api benar-benar padam dan tidak kembali memicu kebakaran.
Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki mengatakan, hujan telah membantu mengurangi kebakaran di sejumlah wilayah. Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman karena masih ditemukan beberapa area yang mengeluarkan asap.
“Hotspot dan firespot terus menurun. Namun, upaya pendinginan tetap dilakukan karena masih ada beberapa area yang berasap,” kata Muchendi saat meninjau lokasi kebakaran di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan, jumlah titik panas di OKI mengalami penurunan signifikan. Pada 24 Oktober 2026 tercatat sebanyak 751 titik, kemudian turun menjadi 26 titik pada 26 Oktober, dan kembali berkurang menjadi 21 titik pada 27 Oktober 2026.
Muchendi menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan terakhir, titik panas masih terdeteksi di Desa Pelimbangan dan Desa Ulak Kedondong. Karena itu, seluruh personel diminta tetap siaga dan tidak menganggap kondisi sudah sepenuhnya aman meskipun hujan telah membantu proses pemadaman.
Ia juga meminta para kepala desa berperan aktif memantau perkembangan penanganan karhutla di wilayah masing-masing. Menurutnya, keterlibatan kepala desa penting untuk memastikan upaya penanganan berjalan optimal sekaligus memberikan dukungan moral kepada petugas dan relawan yang masih bekerja di lapangan.
“Kepala desa harus tetap siaga menjaga wilayahnya. Tidak harus memegang selang, tetapi kehadiran pemimpin tentu memberi semangat kepada petugas dan relawan yang memadamkan api,” ujarnya.
Sepuluh Posko Tetap Disiagakan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI Pratama Suryadi mengatakan, penanganan karhutla tetap dilanjutkan meskipun intensitas hujan telah membantu mengurangi kebakaran.
Untuk memperkuat pemantauan, pencegahan, dan penanganan di wilayah rawan, sebanyak 10 posko karhutla masih disiagakan.
Posko tersebut berada di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan; Gerbang Tol 347 Jejawi; Gerbang Tol Celikah; Kantor BPBD OKI; Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur; Desa Sungai Bungin, Kecamatan Pangkalan Lampam; Desa Pulau Beruang, Kecamatan Tulung Selapan; Desa Talang Rimba dan Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal; serta Desa Bumi Pratama Mandira, Kecamatan Sungai Menang.
Dari sisi kekuatan personel, sekitar 810 petugas gabungan masih dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, regu pemadam kebakaran perusahaan, serta Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).
Upaya tersebut juga diperkuat sekitar 2.140 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang tersebar di 102 desa rawan karhutla di Kabupaten OKI.
Pratama mengingatkan, turunnya hujan belum menjamin seluruh titik kebakaran benar-benar padam. Terlebih, kebakaran di lahan gambut berpotensi menyisakan bara api di bawah permukaan tanah yang dapat kembali menyala ketika kondisi mengering.
“Kalau dua sampai tiga hari tidak ada hujan, kemungkinan api bisa menyala lagi,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, petugas terus melanjutkan pembuatan sekat bakar di kawasan yang berpotensi mengalami penjalaran api. Pemeriksaan secara berkala juga dilakukan pada lahan bekas terbakar, khususnya di lokasi yang masih mengeluarkan asap.
Pratama menjelaskan, kemunculan asap harus dipastikan melalui pemeriksaan langsung di lapangan. Langkah ini diperlukan untuk mengetahui apakah masih terdapat bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
“Petugas tetap rutin mengecek area bekas terbakar untuk memastikan api benar-benar padam,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten OKI menegaskan, penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Namun, kesiapsiagaan personel, pemantauan wilayah rawan, dan pendinginan lahan bekas terbakar tetap menjadi prioritas guna mencegah kebakaran kembali meluas.
(Mrd)
Kayuagung Radio etnikom – Jaringan Media Etnik Indonesia