
OKI — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus memperkuat upaya perlindungan anak di tengah pesatnya arus digitalisasi. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, sosialisasi Program Perlindungan Anak Terpadu (PP Tunas) digelar sebagai langkah preventif untuk melindungi anak, khususnya di bawah usia 16 tahun, dari berbagai risiko di ruang digital, Selasa (28/4).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika OKI, Adi Yanto, menegaskan bahwa paparan internet sejak usia dini memiliki dua sisi yang harus disikapi secara bijak. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber di SMP Negeri 1 Kayuagung.
“Internet membuka akses pengetahuan yang luas, tetapi tanpa pendampingan, anak rentan terpapar konten negatif seperti kekerasan, pornografi, hingga hoaks,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, ancaman di ruang digital tidak hanya sebatas konten, tetapi juga mencakup perundungan daring (cyberbullying) yang semakin marak dan berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak.
Selain itu, potensi eksploitasi anak di dunia digital juga menjadi perhatian. Menurut Adi, lemahnya pengawasan dan minimnya sistem perlindungan dapat membuka celah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Peran orang tua sangat penting, bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi terbuka dan memberikan edukasi terkait penggunaan teknologi. Anak tidak boleh dibiarkan menjelajah dunia digital tanpa pendampingan,” tegasnya.
Adi menambahkan, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan etika siswa di era digital. Selain meningkatkan literasi digital, sekolah diharapkan mampu mendeteksi serta menangani kasus perundungan, baik secara langsung maupun di dunia maya.
Di sisi lain, pemerintah juga didorong menghadirkan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk penguatan pengawasan konten, penyediaan kanal pengaduan, serta sistem perlindungan anak yang responsif.
“Perlindungan anak harus dilakukan secara kolaboratif antara orang tua, sekolah, dan pemerintah,” kata Adi.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Kayuagung, Neti Fatimah, menilai sosialisasi tersebut relevan dengan kondisi siswa yang hidup dalam ekosistem digital.
“Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter dan etika siswa, termasuk dalam penggunaan teknologi secara bijak,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan literasi digital terus dilakukan melalui pembinaan dan pengawasan di lingkungan sekolah. Namun, keterlibatan orang tua tetap menjadi faktor kunci dalam membangun perilaku digital yang sehat.
“Kami mengajak orang tua untuk aktif terlibat, karena pendidikan karakter, termasuk etika berinternet, tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah,” kata Neti.
(Murod)
Kayuagung Radio etnikom – Jaringan Media Etnik Indonesia